Jangan Bertanya
Karya: Kiki Kemilau
Disini gerhana berkaca-kaca, tak setitik pun air mata di izinkan luruh,
bahkan gerimis tak mampu mewakili kentalnya balutan pedih yang utuh
Pelangi sisa senja tadi telah berubah serupa tajam belati, menancap menandai dinding ujung hari yang mati
Tak ada upacara perkabungan, saat hujan yang deras berhasil mengubur satu kali lagi hati yang hancur
Jangan bertanya, mengapa?
Kita tunggu saja waktu membaur dimusim yang paling basah ini
Kelak, saat akhirnya masa purnama tiba, mungkin angin yang jadi saksi
bisa berkisah tentang bulan yang pecah Atau tentang matahari yang padam
diujung pagi
Ini hanya tentang soal waktu saja
Jangan terkejut!!
Masih tersisa disini, tentang rajahan yang ditinggalkan kisah semusim
cinta, hingga aliran darah tetap terasa deras dan hangat Mungkin
bersepakat untuk terus menghidupkan jantung yang lebam membiru, sekarat
Disini, gerhana berkaca-kaca
Malam merengkuhnya kedalam pelukan paling erat
Jangan pernah bertanya lagi, mengapa?
Karena inilah kisahnya...
Tampilkan postingan dengan label Lintang Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lintang Karya. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Januari 2015
Kamis, 08 Januari 2015
Karya Pembaca
Singa-Singa Muda
Karya: Humairo Azizah
Langit tetap terjaga meski bulan tak nampak
Malam tetap ramai dengan kesunyiannya membalut malu
Lampu-lampu di sana terlihat seperti hamparan bintang dari kejauhan
Ular itu tak asing lagi singgah dikeramaian
Seakan tak takut pada mata yang tak pernah luput
Ular itu menyebar bisa pada Singa-singa muda
Menyuguhi daging-daging yang nampak segar
Padahal lintah yang mengerogoti etika di dalamnya
Singa-singa yang harus terus dipagari kekokohan hatinya
Dirayu agar ikut dalam lubang kenistaann
Singa harus tetap tegak
Tetap menjaga pondasi dalam dirinya
Karena kelak akan membawa kehormatan dunia...
Karya: Humairo Azizah
Langit tetap terjaga meski bulan tak nampak
Malam tetap ramai dengan kesunyiannya membalut malu
Lampu-lampu di sana terlihat seperti hamparan bintang dari kejauhan
Ular itu tak asing lagi singgah dikeramaian
Seakan tak takut pada mata yang tak pernah luput
Ular itu menyebar bisa pada Singa-singa muda
Menyuguhi daging-daging yang nampak segar
Padahal lintah yang mengerogoti etika di dalamnya
Singa-singa yang harus terus dipagari kekokohan hatinya
Dirayu agar ikut dalam lubang kenistaann
Singa harus tetap tegak
Tetap menjaga pondasi dalam dirinya
Karena kelak akan membawa kehormatan dunia...
Kamis, 01 Januari 2015
Karya Pembaca
Menapaki Jejak
Karya: M Seftia Permana
Harapan tersimpan dalam diam
Masa silam tersisip dalam pandang
menyeret air mata
membungkam kata
Membuta seketika
Dalam kelam sore
Semua Kepala menunduk khidmat
Bukan sekedar menatap tanah
Tapi hati menjulurkan harap
Semoga cerah segera menyapa
Purnama akan menutup catatan
Serpihan jejak masih berserakan sepanjang jalan
Puing ronta juang harus disatukan
banyak halaman yang belum terbaca
Meyakinkan nurani memilah aksara
Tiba-tiba esok Hari terjerembab dalam doa seorang anak muda
Anak muda yang kedap suara pagi
sisa dari kemarin yang panjang
Tersisip harap
Perjalanan menyusuri jejak merah terdahulu
hingga berjumpa dengan Pengibaran Panji
Pada upacara pagi yang masih bising pesta pora
Sudah waktunya tubuh renta duduk dan menyimak
Tapi tetap
Pembuat jejak belum purna
jalan setapak terus ditatap
Benahi lubang-lubang yang dijumpai
Tak cukup sekedar memaki
Karya: M Seftia Permana
Harapan tersimpan dalam diam
Masa silam tersisip dalam pandang
menyeret air mata
membungkam kata
Membuta seketika
Dalam kelam sore
Semua Kepala menunduk khidmat
Bukan sekedar menatap tanah
Tapi hati menjulurkan harap
Semoga cerah segera menyapa
Purnama akan menutup catatan
Serpihan jejak masih berserakan sepanjang jalan
Puing ronta juang harus disatukan
banyak halaman yang belum terbaca
Meyakinkan nurani memilah aksara
Tiba-tiba esok Hari terjerembab dalam doa seorang anak muda
Anak muda yang kedap suara pagi
sisa dari kemarin yang panjang
Tersisip harap
Perjalanan menyusuri jejak merah terdahulu
hingga berjumpa dengan Pengibaran Panji
Pada upacara pagi yang masih bising pesta pora
Sudah waktunya tubuh renta duduk dan menyimak
Tapi tetap
Pembuat jejak belum purna
jalan setapak terus ditatap
Benahi lubang-lubang yang dijumpai
Tak cukup sekedar memaki
Kamis, 25 Desember 2014
Karya Pembaca
Selamat Pagi Hati
Karya: Nur Belinda A Sudirman
Karya: Nur Belinda A Sudirman
Pagi hati...
Begitu terburu-burunya subuh tadi berlalu
Mengemas mimpi paling hujan; basah dan diam.
Selamat pagi hati...
Jika kuntum mawar berwarna malam, maka biarkan kelopaknya semerah harap
Setitik embun tak pernah bisa bertahan lama, bergelayut diujung dedaunan
Angin menghisapnya, matahari menyesapnya; hingga tandas.
Yang tersisa hanya jejak hujan dan runtuhan sepi yang dirangkum diam dalam dekapan bumi.
Seperti itulah pengulangan hari.
Selamat pagi, apakabar hati?
Begitu terburu-burunya subuh tadi berlalu
Mengemas mimpi paling hujan; basah dan diam.
Selamat pagi hati...
Jika kuntum mawar berwarna malam, maka biarkan kelopaknya semerah harap
Setitik embun tak pernah bisa bertahan lama, bergelayut diujung dedaunan
Angin menghisapnya, matahari menyesapnya; hingga tandas.
Yang tersisa hanya jejak hujan dan runtuhan sepi yang dirangkum diam dalam dekapan bumi.
Seperti itulah pengulangan hari.
Selamat pagi, apakabar hati?
Kamis, 18 Desember 2014
Karya Pembaca
Cinta dan Embun yang Hilang
Karya: Putra
Karya: Putra
Betapa manis senyummu diantrian kenang sendu yang hanyut tersesat dibelantara kabut, ini rindu.
Langit pagi begitu biru
Suara angin bersiul menyentuh dedaunan kering yang berguguran
Resah dalam pangkuan
Bisu sepanjang waktu
Hati tak mampu berubah masih berwarna sendu
Cinta ini masih ada masih untukmu.
Rerumput basah memeluk ujung jemari
Di langkah pagi sebulir embun sempurna kusimpan sebelum bergulir terhisap matahari
Sepatah doa bergumul di ujung lidah
Sungguh cinta, cinta ini indah
Disini, pada pagi, aku mencari setapak jejak yang ingin kulewati
Tentang bahagia, tentang mimpi, tentang kebebasan jiwa yang sulit kudapati lagi
Bahkan di bahu mentari harapku berulang terbakar, dan lagi
Untuk cinta ini biarkan aku tersenyum
Untuk sebuah ilusi yang datang menghampiri
Meski samar... Meski entah... meski pasi..
Langit pagi begitu biru
Suara angin bersiul menyentuh dedaunan kering yang berguguran
Resah dalam pangkuan
Bisu sepanjang waktu
Hati tak mampu berubah masih berwarna sendu
Cinta ini masih ada masih untukmu.
Rerumput basah memeluk ujung jemari
Di langkah pagi sebulir embun sempurna kusimpan sebelum bergulir terhisap matahari
Sepatah doa bergumul di ujung lidah
Sungguh cinta, cinta ini indah
Disini, pada pagi, aku mencari setapak jejak yang ingin kulewati
Tentang bahagia, tentang mimpi, tentang kebebasan jiwa yang sulit kudapati lagi
Bahkan di bahu mentari harapku berulang terbakar, dan lagi
Untuk cinta ini biarkan aku tersenyum
Untuk sebuah ilusi yang datang menghampiri
Meski samar... Meski entah... meski pasi..
Kamis, 04 Desember 2014
Karya Pembaca
Hujan
Karya: Anisa Anwar
Karya: Anisa Anwar
Percikan hujan mengalun nada sendu
Langit berwajah muram
Menyembunyikan hatinya
Irama gemercik air mengelabui tangisan kepiluan
Alam tak habis bercerita
Bumi berpayungkan langit tempat sandiwara ini bermula
Kisah tentang manusia yang berkasih
Memberi kasih dan meminta kasih
Langit berwajah muram
Menyembunyikan hatinya
Irama gemercik air mengelabui tangisan kepiluan
Alam tak habis bercerita
Bumi berpayungkan langit tempat sandiwara ini bermula
Kisah tentang manusia yang berkasih
Memberi kasih dan meminta kasih
Kamis, 27 November 2014
Karya Pembaca
Gerimis
Karya: Alisna
Karya: Alisna
Telah usai anak rintik meludahi siang
Tingal sepi membuka kunci....
Parungkuda, 24 Nov '14
Tingal sepi membuka kunci....
Parungkuda, 24 Nov '14
Kamis, 20 November 2014
Puisi Pembaca
ELEGI RINDU
Karya: Putra Kemilau
Karya: Putra Kemilau
Bunga tumbuh indah merekah
Putik menghias warnanya ungu
Tak kan lumpuh kaki ku melangkah
Lewati kerikil berumput debu
Putik menghias warnanya ungu
Kumbang datang menghisap madu
Tiada mengering telaga kalbu
Tempat ku tampuk sejuknya rindu
Kumbang datang menghisap madu
Jatuh ketanah tertiup bayu
Engkau gadis berwajah lugu
Ku bentang harap bertatap temu
Jatuh ketanah tertiup bayu
Bukanlah diri ingin layu meminta
Ku bentang harap bertatap temu
Putik menghias warnanya ungu
Tak kan lumpuh kaki ku melangkah
Lewati kerikil berumput debu
Putik menghias warnanya ungu
Kumbang datang menghisap madu
Tiada mengering telaga kalbu
Tempat ku tampuk sejuknya rindu
Kumbang datang menghisap madu
Jatuh ketanah tertiup bayu
Engkau gadis berwajah lugu
Ku bentang harap bertatap temu
Jatuh ketanah tertiup bayu
Bukanlah diri ingin layu meminta
Ku bentang harap bertatap temu
Kamis, 13 November 2014
Puisi Karya Pembaca
KOSONG
karya: Yenti
karya: Yenti
Kepalaku penuh
Tak dapat lagi menerima semua
Kepala seakan meledak
Menghambur, mengikuti arah angin
Terdengar hanya helaan nafas
Cepat semakin cepat memburu tak terkendali
Tatapan tajam seakan menelan bumi
Meraung, menunjukkan keganasan
Aku hanya bisa diam
Menatap ruang kosong tak berdaya dan mati
Ku hanya bisa menutup telinga
Mengalihkan pandangan dan
Berharap semua ini hanya mimpi
Tak dapat lagi menerima semua
Kepala seakan meledak
Menghambur, mengikuti arah angin
Terdengar hanya helaan nafas
Cepat semakin cepat memburu tak terkendali
Tatapan tajam seakan menelan bumi
Meraung, menunjukkan keganasan
Aku hanya bisa diam
Menatap ruang kosong tak berdaya dan mati
Ku hanya bisa menutup telinga
Mengalihkan pandangan dan
Berharap semua ini hanya mimpi
Kamis, 06 November 2014
Puisi
KETIKA INDONESIA DIHORMATI DUNIA
Karya: Taufiq Ismail
Karya: Taufiq Ismail
Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka
Itulah pemilihan umum yang paling indah dalam sejarah bangsa
Pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam sejarah kita
Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah jujur dan adil
Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma dilaksanakan
Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi
Pesta demokrasi tak dilisankan pesta demokrasi cuma dilangsungkan
Pesta yang bermakna kegembiraan bersama
Demokrasi yang berarti menghargai pendapat berbeda
Pada waktu itu tak ada huru-hara yang menegangkan
Pada waktu itu tidak ada setetes pun darah ditumpahkan
Pada waktu itu tidak ada satu nyawa melayang
Pada waktu itu tidak sebuah mobil pun digulingkan lalu dibakar
Pada waktu itu tidak sebuah pun bangunan disulut api berkobar
Pada waktu itu tidak ada suap-menyuap, tak terdengar sogok-sogokan
Pada waktu itu dalam penghitungan suara, tak ada kecurangan
Itulah masa, ketika Indonesia dihormati dunia
Sebagai pribadi, wajah kita simpatik berhias senyuman
Sebagai bangsa, kita dikenal santun dan sopan
Sebagai massa kita jauh dari kebringasan, jauh dari keganasan
Tapi enam belas tahun kemudian, dalam 7 pemilu berturutan
Untuk sejumlah kursi, 50 kali 50 sentimeter persegi dalam ukuran
Rakyat dihasut untuk berteriak, bendera partai mereka kibarkan
Rasa bersaing yang sehat berubah jadi rasa dendam dikobarkan
Kemudian diacungkan tinju, naiklah darah, lalu berkelahi dan berbunuhan
Anak bangsa tewas ratusan, mobil dan bangunan dibakar puluhan
Anak bangsa muda-muda usia, satu-satu ketemu di jalan, mereka sopan- sopan
Tapi bila mereka sudah puluhan apalagi ratusan di lapangan
Pawai keliling kota, berdiri di atap kendaraan, melanggar semua aturan
Di kepala terikat bandana, kaus oblong disablon, di tangan bendera berkibaran
Meneriak-neriakkan tanda seru dalam sepuluh kalimat semboyan dan slogan
Berubah mereka jadi beringas dan siap mengamuk, melakukan kekerasan
Batu berlayangan, api disulutkan, pentungan diayunkan
Dalam huru-hara yang malahan mungkin, pesanan
Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampumerubah perilaku
Bangsaku.
2004
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka
Itulah pemilihan umum yang paling indah dalam sejarah bangsa
Pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam sejarah kita
Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah jujur dan adil
Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma dilaksanakan
Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi
Pesta demokrasi tak dilisankan pesta demokrasi cuma dilangsungkan
Pesta yang bermakna kegembiraan bersama
Demokrasi yang berarti menghargai pendapat berbeda
Pada waktu itu tak ada huru-hara yang menegangkan
Pada waktu itu tidak ada setetes pun darah ditumpahkan
Pada waktu itu tidak ada satu nyawa melayang
Pada waktu itu tidak sebuah mobil pun digulingkan lalu dibakar
Pada waktu itu tidak sebuah pun bangunan disulut api berkobar
Pada waktu itu tidak ada suap-menyuap, tak terdengar sogok-sogokan
Pada waktu itu dalam penghitungan suara, tak ada kecurangan
Itulah masa, ketika Indonesia dihormati dunia
Sebagai pribadi, wajah kita simpatik berhias senyuman
Sebagai bangsa, kita dikenal santun dan sopan
Sebagai massa kita jauh dari kebringasan, jauh dari keganasan
Tapi enam belas tahun kemudian, dalam 7 pemilu berturutan
Untuk sejumlah kursi, 50 kali 50 sentimeter persegi dalam ukuran
Rakyat dihasut untuk berteriak, bendera partai mereka kibarkan
Rasa bersaing yang sehat berubah jadi rasa dendam dikobarkan
Kemudian diacungkan tinju, naiklah darah, lalu berkelahi dan berbunuhan
Anak bangsa tewas ratusan, mobil dan bangunan dibakar puluhan
Anak bangsa muda-muda usia, satu-satu ketemu di jalan, mereka sopan- sopan
Tapi bila mereka sudah puluhan apalagi ratusan di lapangan
Pawai keliling kota, berdiri di atap kendaraan, melanggar semua aturan
Di kepala terikat bandana, kaus oblong disablon, di tangan bendera berkibaran
Meneriak-neriakkan tanda seru dalam sepuluh kalimat semboyan dan slogan
Berubah mereka jadi beringas dan siap mengamuk, melakukan kekerasan
Batu berlayangan, api disulutkan, pentungan diayunkan
Dalam huru-hara yang malahan mungkin, pesanan
Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampumerubah perilaku
Bangsaku.
2004
Kamis, 30 Oktober 2014
Puisi
Dengan Puisi, Aku
Karya: Taufiq Ismail
Karya: Taufiq Ismail
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Kamis, 23 Oktober 2014
Puisi Karya Pembaca
Elegi Hujan
karya: Putra
Patahan hujan memulas tanah
Daun tak lagi mengembun
Basah mengayun resah
Dalam sembab pelukan air langit
Tanggal di bibir bulan
Lewat sudah tiupan nafas tersenggal
Dari separuh purnama bernama
Rekah wajah jelita berkepang doa
Tinggal menanti lagi fajar
Biaskan sebias kejora
Dalam senyum ku pinta baca
Surat asuhan jagad raya
Kembali gigil mengelu
Mematik tulang membeku
Bersandar pada bara sang perindu
Melukis pelangi di atas tungku
karya: Putra
Patahan hujan memulas tanah
Daun tak lagi mengembun
Basah mengayun resah
Dalam sembab pelukan air langit
Tanggal di bibir bulan
Lewat sudah tiupan nafas tersenggal
Dari separuh purnama bernama
Rekah wajah jelita berkepang doa
Tinggal menanti lagi fajar
Biaskan sebias kejora
Dalam senyum ku pinta baca
Surat asuhan jagad raya
Kembali gigil mengelu
Mematik tulang membeku
Bersandar pada bara sang perindu
Melukis pelangi di atas tungku
Langganan:
Postingan (Atom)